Jumat, 24 Agustus 2012

Resesi Ekonomi Dunia Cemaskan Pemerintah RI


Bogor, Warta Interpol
Pemerintah cemas dan khawatir menghadapi ancaman resesi ekonomi dunia. Pasalnya, saat ini muncul ancaman resesi baru diberbagai belahan dunia, terutama di negara-negara Eropa. Padahal, ancaman resesi sebelumnya belum berakhir.

"Apa yang terjadi saat ini, baik pada tingkat global maupun regional bahwa dunia kembali berada dalam resesi, lebih tepatnya Eropa.


Karena itu, harus ada peran pemerintah yang terukur, konstruktif agar ekonomi suatu negara bisa dikelola. Paling tidak bisa meminimalkan dampak resesi," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memimpin sidang kabinet terbatas bidang ekonomi di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/8).

Hadir pada acara itu Wakil Presiden (Wapres) Boediono, Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, dan para menteri bidang ekonomi lainnya.

SBY meminta seluruh pembantunya agar bisa mengelola pertumbuhan ekonomi dengan baik sehingga terhindar dari ancaman resesi. Para menteri jangan berpuas diri dengan pertumbuhan ekonomi saat ini yang mencapai 6 persen.

"Ekonomi tahun depan dan tahun depannya lagi harus dikelola secara penuh dan intensif. Jangan merasa ekonomi kita sudah tumbuh di atas 6 persen tidak kena dampak. Kalau kita pikir seperti itu, bisa lengah dan lalai. Segala sesuatu bisa terjadi," ujarnya.

Ia menegaskan pemerintah berusaha mengelola semua sumber-sumber ekonomi bangsa ini. Namun ada enam fokus utama kebijakan pemerintah yang harus diprioritaskan. Keenam agenda utama itu adalah masalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas harga. Prioritas lainnya adalah upaya terus mengurangi kemiskinan, meningkatkan ketahanan pangan, dan ketahanan energi.

"Saya sudah bicara dengan Wapres untuk menyukseskan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) dan APBN Perubahan 2012. Dengan demikian 2013-2014, kita siap menghadapi perkemb global apapun," tuturnya. (ant)

0 comments:

Posting Komentar